Personal Blog || Inspirasi | Imajinasi | Kreasi | Informasi | Pendidikan ||

Thursday, 21 May 2015

Yakinlah Ilmu Senantiasa Akan Menjaga Amal Kita

ILMU membawa kepada keyakinan. Keyakinan membawa kepada amal. Amal membawa kepada keberuntungan. Ada tiga keyakinan: ilmul yaqin, ainul yaqin, dan haqqul yaqin. Ilmul yaqin adalah keyakinan berdasarkan ilmu. Saya mengajarkan hikmah kepada diri saya, kepada keluarga saya, kepada jamaah saya, bahwa sedekah bisa begini dan sedekah bisa begitu. Lalu saya dan di antara yang diseru, bersedekah atau melakukan sedekah. Inilah salah satu bentuk ilmul yaqin, keyakinan berdasarkan ilmu. Dengan ilmunya saya lalu terdorong kuat untuk beramal. Dari ilmul yaqin tersebut, kemudian ada satu dua yang merasakan manfaat sedekah. Inilah kiranya yang disebut ainul yaqin, keyakinan berdasarkan mata, berdasarkan pengalaman. Dan ada satu lagi, yaitu yang namanya haqqul yaqin. Bulat, enggak perlu pengalaman mesti berhasil, mesti manfaat. Yakin… Ya yakin.
Melihat penjelasan awal di atas, nampaknya kehadiran ilmu, salah satu kepentingannya adalah supaya mendorong lahirnya amal. Malah dengan adanya ilmu, maka amal itu akan menjadi terus terpelihara.
Di buku THE MIRACLE ini, saya menyuguhkan banyak kisah yang menjadi pembelajaran tentang ilmu, keyakinan, amal shaleh, istiqamah, dan keberkahan.
Kali ini disuguhkan kisah tentang seorang direksi sebuah perusahaan. Darinya kita bisa belajar bahwa dengan mengetahui fadhilah sesuatu, ia akan mendorong kita bukan saja untuk melakukannya, tapi juga untuk memeliharanya.
Suatu ketika dia merasa jenuh bekerja di dunia perhotelan, jauh sebelum dia menjadi seorang direktur. Dia memutuskan keputusan yang menurut orang gegabah, yaitu berhenti sebelum punya pekerjaan lain. Ternyata orang-orang di sekelilingnya, benar. Hingga sekian lama ia tidak kunjung memiliki pekerjaan. Sampai suatu saat ia mendengar bahwa shalat Dhuha 4 rakaat bisa membuka pintu rezeki. Bangunlah dia menegakkan shalat Dhuha ini, 4 rakaat, terdiri dari dua rakaat-dua rakaat. Ajaib! Tidak berapa lama pekerjaan dia dapatkan. Tapi apa yang terjadi? Ilmunya tentang shalat Dhuha, pengetahuannya tentang shalat Dhuha, tidak mampu membuatnya mengistiqamahkan shalat Dhuha ini. Ia berhenti shalat Dhuha, dan berhenti pula ia dari pekerjaannya setelah ia menghentikan dhuhanya itu.
Dia kemudian shalat Dhuha lagi, 4 rakaat, dua-dua rakaat, atau dua salam. Kejadian berulang, ia mendapat pekerjaan lain. Tapi lagi-lagi shalat Dhuhanya berhenti. Anehnya,berhenti juga ia punya pekerjaan. Kejadian ini berulang beberapa kali hingga Allah memberikan hidayah buatnya untuk tetap menjaga shalat Dhuhanya.
Dalam satu kesempatan audiensi dengan saya, direktur ini mengakui bahwa suatu saat ia berpikir, “Jangan-jangan benar, bahwa wasilah shalat Dhuhanya, pintu rezeki berupa pekerjaan terbuka untuk saya. Dan ketika shalat Dhuha ini saya tinggalkan, tertutup lagi pintu rezeki yang terbuka itu.”
“Dari Rasulullah Saw, Allah Swt berfirman, ‘Wahai anak Adam, shalatlah untuk-Ku empat rakaat di awal siang (dhuha), maka akan Aku cukupkan bagimu siangmu,” (Hadits qudsi diriwayatkan oleh at-Tirmidzi).

http://lokermantap1.blogspot.com/

Lihat Badan Pengungsi Rohingya Kurus-kurus, Nelayan Indonesia Menangis

SETELAH Indonesia mengumumkan bersedia menampung pengungsi muslim Rohingya dan Bangladesh, akhirnya, sekitar 433 migran yang kelaparan di atas perahu reyot mereka segera diselamatkan oleh kapal-kapal nelayan setempat pada Rabu (20/5/15).
Ada pemandangan yang sangat memilukan dari kondisi terakhir muslim Rohingya tersebut. Seperti yang diberitakan oleh seorang nelayan Indonesia Muchtar Ali kepada AFP.
“Saya terdiam. Melihat orang-orang ini, saya dan teman-teman saya menangis karena mereka tampak begitu lapar hingga badan mereka sangat kurus, “katanya sambil meneteskan air mata.

Wednesday, 20 May 2015

Save Rohingya, Jangan Bilang ‘Bukan Urusan Saya’

“SEGITU bencinyakah mereka pada Islam?”
“Ngomong sama siapa, Bro?”
“Ish, tiba-tiba datang aja, ente. Kalau masuk rumah orang baca salam dulu, ke…”
“Udah dari tadi kali. Kata istri ente, ente lagi khusyuk ngetik. Ya udah ane samperin ke mari. Lagi ngetik apaan sih?”
“Ane lagi nulis artikel tentang Rohingya. Kasihan banget mereka…”
“Oo… yang terdampar di Aceh itu kan?”
“Bener, Bray. Mereka itu udah berminggu-minggu di tengah lautan. Ditolak Thailand dan Malaysia. Akhirnya, dengan izin Allah, nelayan Aceh menemukan mereka dan membawanya ke Indonesia…”
“Waw… kebayang tuh. Bakalan penuh dong pulau kita ntar, Bro. Katanya pan ribuan tu pengungsi, ditampung dimana coba, negara kita aja udah susah begini…”
“Ente nih. Ini urusan kemanusiaan. Buang jauh-jauh istilah ‘Bukan urusan saya’ terlebih mereka saudara seiman. Tega bener kalau kita biarin mereka…”
“Iye-iye… sory dah, Bro”
“Saat seorang Muslim salah dalam penyebutan istilah, ia dibully netizen. Muslim tertindas, adem ayem. Kemana para netizen yang sempat bully H Lulung kemarin, sampe-sampe jadi Trend Topic itu?. Ini pan cakupannya masalah kemanusiaan. Harusnya, jika sisi kemanusiaan mereka tersentuh, ya bergerak juga dong di medsos. Jadiin trend topic kayak H Lulung kemarin.”
“Ya, mungkin karena pengungsi Rohingya itu orang-orang Muslim, Bro…”
“Ya, jika soal Muslim, orang-orang selalu bersikap ‘Bukan urusan saya’, Bray”

Ibadah Merupakan Salah Satu Ikhtiar Mendapatkan Dunia

MENGENAL Allah ialah salah satu kunci sukses, sebab dengan mengenal Allah manusia menjadi tahu dan mudah-mudahan akan selalu ingat bahwa walaupun bagaimana dirinya sebagai manusia berusaha, tetapi hasil akhir ada ditangan Allah. Dengan demikian manusia menjadi tidak sombong apabila berhasil karena keberhasilannya adalah hasil campuran antara ikhtiar, usahanya dan bantuan dari langit berupa ketentuan. Apabila dia gagal, dia tidak perlu menyalahkan dirinya sendiri, karena sadar bahwa kegagalannya bukan karena usahanya kurang bagus, tetapi ada penentu segala penentuan, yaitu Allah.
Saya masih tertarik untuk membahas tentang “menempuh jalan ibadah sebagai sebuah keutamaan.” Dalam kehidupan sehari-hari, tidak sedikit orang yang menyalahkan orang lain yang beribadah sebagai jalan ikhtiar mencari dunia-Nya Allah. Saya lebih menyebutnya sebagai “sebuah keutamaan”. Ya, mencari dunia dengan jalan beribadah adalah sebuah keutamaan. Mengapa demikian? Sebab bukankah mengikuti anjuran Allah dan Rasul-Nya adalah juga ibadah?
Dunia adalah milik Allah. Ketika Allah memerintahkan kita begini dan begitu ketika kita mencari dunia milik-Nya, maka ini menjadi sebuah ibadah yang sangat hebat. Di samping tentu menjadi sebuah wujud iman dan keyakinan kepada-Nya. Itu’kan sebutan betawinya nurut, atau percaya. Saudaraku, terhadap dokter saja, keyakinan kita bukan main hebatnya. Ketika seorang dokter mengatakan, “Anda harus dioperasi segera… dalam hitungan 24 jam!” Wah, kita akan terbirit-birit mengiyakan.
Andai kita tidak ada uang pun kita akan mengusahakan setengah mati, pinjam sana pinjam sini. Kalau perlu, kita tinggalkan rumah kita, kita korbankan kendaraan kita untuk mendapatkan uang buat operasi. Ada ahli desain interior. Dia berkunjung ke rumah kita. Lalu memberikan advisnya tentang tata ruang yang lebih membuat sirkulasi udara rumah kita menjadi lebih bagus, maka insya Allah kita akan mengubah tata letak rumah kita tersebut andai memang kita ada uang. Atau malah jangan-jangan kepikiran terus untuk sesegera mungkin menjalankan advis sang desainer interior tersebut.
Terhadap saran manusia, terhadap nasihat manusia, kita bak… bik… buk… memikirkan dan mengikutinya. Mengapa terhadap nasihat Allah dan Rasul-Nya tidak kita ikuti? Apakah karena kita tidak percaya kepada Allah dan Rasul-Nya? Atau jangan-jangan kita terjebak kepada kesungkanan atau makna keikhlasan yang barangkali perlu dikoreksi? Sehingga ibadah kita tidak bertenaga? Tidak memiliki spirit? Sebab bisa jadi bayang-bayang tidak boleh beribadah karena meminta sesuatu dari Allah, entah itu dunia-Nya, berharap solusi dari-Nya, menjadikan kita seperti setengah-setengah beribadah. Bukan karena penuh pengharapan kepada-Nya, atas janji-janji-Nya sendiri.
Macam gini, Allah menyebut bahwa jalan tahajjud akan membuat hidup seseorang berubah menjadi lebih baik lagi. Bila dilakukan terus-menerus akan membuat seseorang naik terus derajat dan kemuliaannya. Lalu, ada seseorang yang melakukan tahajjud sebab percaya akan firman-firman Allah dan hadits-hadits Rasul seputar tahajjud ini, dan kemudian menyandarkan harapan hanya pada-Nya, sekali lagi, hanya pada-Nya, apakah ini salah? Lebih utama mana dengan yang tidak mengerjakannya? Atau lebih utama mana dengan yang mengerjakannya tanpa berharap kepada-Nya? Apalagi kalau kita sepakat bahwa meminta kepada Allah pun merupakan ibadah tersendiri? Tahajjud ya ibadah… dan meminta (do’a) adalah juga ibadah. Maka bila seseorang melakukan tahajjud dan juga berdo’a kepada Allah, bukankah dia malah dapat dua keutamaan?

Terus lagi, Rasul misal pernah bilang juga begini, “Kalau mau dibantu Allah, bantulah sesama.” Lalu, seseorang yang menghendaki pertolongan Allah bergegas menyambut seruan ini untuk benar-benar berharap turunnya pertolongan Allah baginya. Apakah ini salah? Tega bener kalo salah mah.
Saudaraku, ayo! Beranilah meminta. Kalimat bahwa beribadah sama Allah, beribadah saja, jangan minta-minta sama Allah, harus ikhlas, ini menurut saya perlu dilakukan lagi penelitian mendalam. Kasihan orang yang butuh pertolongan Allah yang menempuh jalan ibadah dan jalan-jalan yang diseru-Nya.

Mohon do’a agar Allah memberikan bimbingan kebenaran dari-Nya. Dan juga mohon koreksi apabila ada pembaca yang lebih arif, lebih alim, dan lebih mengetahui tentang hal-hal apa yang saya tulis. Andai ada kebenaran, datangnya dari Allah. Apabila ada kesalahan, itulah saya, Yusuf Mansur, yang memang begitu banyak kekurangannya. Kepada Allah semua kita kembalikan.

Sunday, 10 May 2015

Hanya Memberi Sisa


Mengapa kita sering habis habisan mengerahkan tenaga, pikiran,waktu, biaya, hati untuk mencari cinta manusia.
Makhluk tak berdaya, yang tak bisa menguasai hatinya sendiri dan pasti akan tiada.
Atau untuk mengejar duniawi yang pasti kita tinggalkan.
Tapi kita tidak habis-habisan memburu cinta Alloh.
Penguasa semesta alam, Yang nyata-nyata sudah menciptakan, menghidupkan, menjamin, mengurus diri kita setiap saat walau DIA menyaksikan kita lupa, lalai dan bahkan mengkhianatiNya.
Mengapa kepada DIA hanya memberi sisa?

Sholat hanya sisa waktu kesibukan,
Zikir hanya sisa ngobrol,
Menyebut nama-Nya hanya sisa waktu dari menyebut-menyebut harta / manusia,
Baca alquran hanya sisa waktu dari membaca koran/sms/bbm, internet.
Sedekah hanya sisa dari belanja/jajan
Memikirkan akherat hanya sisa dari memikirkan duniawi
Hati untuk-Nya hanya sisa dari hati yang dipenuhi cinta kepada manusia/duniawi.
Akankah hanya sisa sisa untuk Rabb yang amat Mengasihimu..
Manaa bukti cintamu ??…
Hanya sisa-sisa itukah??…
Bukti cintamu.. kepada Penciptamu ??
 
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. [Al Hadid: 20]
Ditulis oleh: KH. Abdullah Gymnastiar ( Aa Gym )

Saturday, 9 May 2015

SUBHANALLAH !! Tenggelamnya Titanic menurut Surah Yassin

Seluruh dunia mengetahui kisah tenggelamnya kapal Titanic yang sangat tragis. Selain itu, pelbagai novel telah menceritakan kisah memilukan dalam tragedi tersebut bahkan telah difilemkan.

Terdapat juga sebuah lagu yang menjadi kegemaran seluruh dunia dan dijadikan sebagai sound track filem berkenaan. Tetapi, tahukan kita apa sebenarnya penyebab Titanic tenggelam ke dasar lautan dalam?

Namun begitu alangkah sungguh menakjubkan apabila mengetahui maksud yang terkandung dalam surah Yassin yang sering kita baca sebenarnya mempunyai perkaitan rapat dengan kisah kapal Titanic yang telah tenggelam kira-kira 101 tahun yang lalu (1912 – 2013).

Kapal Titanic tenggelam pada 14 April 1912 dalam tempoh kurang 3 jam selepas terlanggar bongkah ais gergasi, punca utama yang menyebabkan Titanic terputus dua sebelum ianya hilang dari pandangan serta mengorbankan 1517 mangsa.

Kapal termahal yang pada mulanya diberi nama Gigantic, sesuai dengan statusnya yang besar dan mewah, kemudian ditukar kepada Titanic yang bermaksud ‘dewa jahat perkasa’ , menelan kos lebih $USD7juta (pada masa itu).

Kapal mewah ini mengambil masa 3 tahun untuk disiapkan, serta melibatkan 5 ribu tenaga kerja itu akhirnya tenggelam menjadi tukun pembiakan ikan di dasar lautan Atlantik hanya selepas 4 hari belayar merentasi samudera dari Southampton, England menuju ke New York.

Bayangkan 3 tahun untuk disiapkan, namun mengambil masa 3 jam sahaja untuk tenggelam!

Joseph Bruce Ismay , pemilik kapal mewah ini pernah mengeluarkan kenyataan angkuhnya iaitu

‘Tuhan pun tidak mampu menenggelamkannya..”

Kata-kata ini sudah cukup menunjukkan betapa megahnya pemilik kapal Titanic ini, dalam satu majlis makan malam sempena pelancarannya iaitu kira-kira beberapa hari sebelum kapal ini memulakan perjalanan.

Kapten Edward J.Smith

Tidak cukup dengan itu ditambah pula kenyataan kapten Edward J.Smith yang dilantik sebagai nakhoda yang bakal menerajui pelayaran sulung gergasi laut itu, kapal penumpang paling besar, paling mewah, paling canggih di zamannya....

“Sepanjang 40 tahun pengalaman aku dalam bidang pelayaran, bermacam cabaran dilalui, pelbagai keadaan cuaca dan ribut telah dirempuh, aku berjaya elakkan segala kemalangan, kerana aku adalah yang terbaik dan tidak pernah gagal dalam setiap misi perjalanan…”

Kenyataan beliau itu cukup menunjukkan mereka telah lupa ada kuasa yang jauh lebih hebat iaitu Tuhan.

''Hasil'' dari kenyataan bongkak itu, Tuhan mentakdirkan kapal itu belayar hanya 3 hari saja dan lautan Atlantik Utara menjadi perkuburan besar bagi hampir 1500 orang ''mangsa'' Titanic.

Ucaplah, SUBHANALLAH!

Tetapi para sarjana dan ilmuwan Islam terkemuka dunia yang mengkaji sejarah kapal itu menemui hasilnya yang amat mengejutkan. Baca balik Surah Yaasin ayat ke 40 hingga ayat ke 43 :

لَا الشَّمْسُ يَنبَغِي لَهَا أَن تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ
41. Dan suatu tanda (kebesaran Allah yang besar) bagi mereka adalah bahwa Kami angkut keturunan mereka dalam bahtera yang penuh muatan.

وَآيَةٌ لَّهُمْ أَنَّا حَمَلْنَا ذُرِّيَّتَهُمْ فِي الْفُلْكِ الْمَشْحُونِ
42. dan Kami ciptakan untuk mereka yang akan mereka kendarai seperti bahtera itu [1269]. [1269] Maksudnya : binatang-binatang tunggangan, dan alat-alat pengangkutan umumnya.

وَخَلَقْنَا لَهُم مِّن مِّثْلِهِ مَا يَرْكَبُونَ
43. Dan jika Kami menghendaki niscaya Kami tenggelamkan mereka, maka tiadalah bagi mereka penolong dan tidak pula mereka diselamatkan.

وَإِن نَّشَأْ نُغْرِقْهُمْ فَلَا صَرِيخَ لَهُمْ وَلَا هُمْ يُنقَذُونَ
44. Tetapi (Kami selamatkan mereka) karena rahmat yang besar dari Kami dan untuk memberikan kesenangan hidup sampai kepada suatu ketika.


Kapal ini digambarkan penuh muatan mungkin seperti kapalnya Nabi Nuh A.S. Untuk Kapal Titanic, Allah SWT ternyata berkehendak, “Kami tenggelamkan mereka”, maka tenggelamlah kapal Titanic beserta sebagian besar penumpangnya. Tetapi Allah juga berkehendak, “Kami selamatkan mereka”, sehingga ada juga penumpang yang selamat yaitu sebagian besar wanita dan anak-anak.

Thursday, 7 May 2015

Pentingnya Niat dalam Amal

Mari kita ajukan sebuah pertanyaan, ‘’Apakah yang menjadi penyebab amal ibadah kita tidak diterima Alloh Swt?’’ Jawaban yang paling mendasar adalah karena salah niat.
Di akhirat kelak ada seorang mujahid yang mati di medan perang,seorang yang rajin sedekah, dan seorang lagi pembaca Al-Quran, namun mereka masuk neraka. Mengapa? Karena salah dalam niat. Mari kita simak keterangan berikut ini.
Abu Hurairoh ra meriwayatkan, bahwa ia pernah mendengar Rosululloh Saw bersabda, ‘’Manusia yang pertama diadili padahari Kiamat nanti adalah orang yang mati di medan jihad. Orang itu didatangkan di hadapan Alloh. Kemudian, ditunjukkan segala kenikmatan yang telah diberikan kepadanya. Dan, ia mengakuinya.
Alloh bertanya kepadanya, ‘’Apa yang telah engkau lakukan di dunia?’’ Ia menjawab, ‘’Aku telah berperang membela agama-Mu.’’ Lalu, Allah berkata,
‘’Engkau berbohong. Engkau berperang agar orang-orang menyebutmu seorang pemberani.’’ Kemudian, Alloh memerintahkan agar amalnya dihitung di pengadilan-Nya. Akhirnya, orang itu dimasukkan ke neraka.
Kemudian, seorang penuntut ilmu sekaligus rajin membaca Al Quran, dihadapkan kepada Alloh. Lalu, ditunjukkan segala kenikmatan yang telah diberikan kepadanya. Dan, ia mengakuinya. Alloh bertanya, ‘’Apa yang telah engkau lakukan di dunia?’’ Dia menjawab, ‘’Aku menuntut ilmu, mengamalkannya dan aku membaca Al Quran dengan mengharap ridho-Mu.’’
Alloh berkata kepadanya, ‘’Engkau berbohong. Engkau mencari ilmu supaya orang menyebut engkau sebagai seorang alim. Dan, engkau membaca Al Quran agar orang lain menyebutmu rajin membaca Al Quran.’’ Kemudian, Alloh memerintahkan agar amalnya dihitung di pengadilan-Nya. Akhirnya, orang itu dimasukkan ke neraka.
Selanjutnya, seorang kaya raya dan terkenal dermawan, dihadapkan kepada Alloh. Lalu, ditunjukkan segala kenikmatan yang telah diberikan kepadanya. Dan, ia mengakuinya. Alloh bertanya, ‘’Apa yang telah engkau lakukan di dunia?’’ Ia menjawab, ‘’Semua harta yang aku miliki tidak aku sukai, kecuali aku sedekahkan karena-Mu.’’
Lalu, Alloh berkata, ‘’Engkau berbohong. Engkau melakukan itu agar orang-orang menyebut engkau sebagai dermawan dan murah hati.’’ Kemudian Alloh memerintahkan agar amalnya dihitung di pengadilan-Nya. Akhirnya, orang itu dimasukkan ke neraka.
Abu Hurairah berkata, ‘’Kemudian, Rosululloh menepuk pahaku dan berkata, ‘’Wahai Abu Hurairoh, mereka adalah manusia pertama yang merasakan panasnya api neraka Jahanam di hari kiamat nanti.’’ (Hadist Riwayat Muslim)
Subhanalloh! Padahal bukankah mati syahid itu sangat besar ganjarannya di sisi Alloh Swt. Akan tetapi ganjaran yang besar itu tak akan pernah ada jika ternyata orang tersebut salah niat. Tidak fokus dalam niatnya. Betapa rugi sekali orang seperti ini.
Seorang pencari ilmu yang sudah memiliki gelar berderet-deret, pekerjaan yang mentereng dengan gaji yang besar. Namun, ternyata untuk semua hal-hal duniawi itulah dia mencari ilmu. Bukan demi ridho Alloh. Demi sanjungan dan penghargaan dari manusia yang memandangnya sebagai
orang berilmu. Maka, sia-sialah semua itu di hadapan Alloh Swt.
Seorang pembaca Al Quran yang rajin tilawah dan merdu suaranya, namun ternyata bukan ridho Allh yang dikejarnya meski yang keluar dari lisannya adalah bacaan ayat-ayat Al Quran. Ia mengejar decak kagum dari manusia yang menyebutnya sebagai seorang qori atau qoriah. Ia mengejar sertifikat, piala dan hadiah-hadiah dari lomba-lomba pembacaan Al Quran. Maka, semua yang diperbuatnya menjadi percuma di hadapan Alloh Swt.
Termasuk juga orang yang bergiat dalam dunia dakwah. Bisa jadi yang ada di dalam hatinya adalah harapan agar dipandang oleh orang sebagai seorang dai. Yang ada dalam pikirannya adalah angka-angka berapa honor yang akan ia terima. Tiidak ada Alloh di hatinya, meski yang ia sampaikan adalah ayat-ayat Al Quran dan hadits-hadits Rosululloh Saw.
Seorang yang gemar mendermakan hartanya, namun bukan penialian Allloh yang ia harapkan, maka ia telah tersesat dalam niatnya. Apa yang ia harapkan adalah kekaguman orang lain yang memandangnya sebagai seorang dermawan. Apa yang ia harapkan adalah sorotan dan jepretan kamera wartawan yang akan memberitakan perihal kegiatannya membagi-bagi sebagian dari hartanya.
Saudaraku, jadi bukan karena kurang kerja keras, amal menjadi tidak bernilai, tetapi karena salah niat yang tidak fokus kepada Alloh Swt.
‘’Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku (QS. Adz Dzariyat (51):56).
Jelas sekali ayat ini menegaskan kepada kita dengan terang-benderang bahwa sudah semestinya yang menjadi fokus kita adalah Alloh Swt dalam setiap amal perbuatan kita. Sehingga apa yang kita lakukan menjadi bernilai ibadah di hadapan Alloh Swt.
Jika Alloh Swt menjadi fokus kita, maka niscaya akan tenang hati kita. Mengapa ada orang yang ketika merasa disakiti oleh orang lain, kemudian dia tenggelam dalam rasa kecewa, sakit hati dan dendam berkepanjangan? Kemudian, ia pun tersiksa oleh perasaannya itu. Mengapa demikian? Karena dia hanya fokus kepada mahluk, kepada manusia yang telah menyakitinya itu.
Lain halnya jika orang itu kemudian fokus kepada Alloh semata, Dzat yang Maka Kuasa atas segala sesuatu, maka niscaya akan terobati rasa sakit hatinya. Hidupnya akan menjadi tenang dan tenteram kembali. Karena ia yakin segala sesuatu terjadi atas izin-Nya, dan tidak ada kejadian di alam raya ini yang terjadi secara sia-sia, pasti ada kebaikan yang terkadung di dalamnya.
Ingat rezeki, segera fokus kepada Alloh yang menggenggam rezeki. Ingat ke anak, segera fokus kepada Alloh yang telah menitipkannya kepada kita. Ingat ujian sekolah segera fokus kepada Alloh yang telah mengkarunia akal pikiran. Ada yang memfitnah, segera fokus kepada Alloh Dzat Yang Maha Mengetahui apa yang benar dan apa yang salah. Punya hutang, segera fokus kepada Alloh Yang Maha Kaya.
Jika yang menjadi fokus kita hanya Alloh, maka Insya Alloh, Dia akan membimbing kita dalam setiap aktifitas kita. Sehingga setiap yang kita lakukan bisa mencapai tingkat yang maksimal. Fokus kepada Alloh akan menghadirkan semangat yang luar biasa di dalam hati kita. Seperti para mujahidin di medan jihad, ketika hanya Alloh yang menjadi fokus tujuan mereka, maka mereka akan melakoni jihad tersebut dengan semangat bergelora tanpa ada rasa takut terhadap makhluk sedikit pun.
Betapa penting untuk fokus hanya kepada Alloh Swt, semata. Agar kita semakin semangat melihat diri untuk lurus dalam niat, fokus hanya mengharap ridho Alloh, bukan yang selain-Nya. Dan, meraih prestasi terbaik di dunia dan akhirat.