Personal Blog || Inspirasi | Imajinasi | Kreasi | Informasi | Pendidikan ||

Saturday, 2 April 2016

Bukankah Tidak Ada Dalil Yang Melarang Morokok, Mengapa Anda Mengharamkannya?....

http://www.UangProfit.com/?id=subhanallah

Diantara upaya pembelaan diri yang dilakukan mereka para perokok. Mereka mengatakan "bukankah tidak ada dalil yang melarang merokok, mengapa anda mengharamkannya? Bukankah rokok tidak ada di zaman Nabi SAW? Berarti hukum asalnya tidak dilarang"
www.income-syariah.com/?id=rithooAnda beralasan rokok tidak ada di zaman Nabi SAW, mengapa harus dilarang?

Mari kita merenung sejenak, coba kita bayangkan andai rokok itu ada di zaman Nabi SAW, ada di zaman para sahabat. Anda tarik kemasa silam benda ini yaitu rokok.

Siapakah yang kira-kira layak menghisapnya?

Di zaman beliau SAW ada banyak jenis manusia. Disana ada Nabi SAW manusia paling baik, ada Abu Bakar as Siddiq, Umar, Ustman, Ali dan para sahabat lainnya r.a.

Sebaliknya disana ada Abu Jahal, ada Abu Lahab, ada orang jahat gembong-gembong musyrikin. Disana ada Ubay Abdullah bin Salul, dan orang-orang munafik, orang-orang yahudi yang tinggal bersama-sama Nabi di Madinah.

Coba anda bayangkan Nabi SAW merokok, sebelum berkhutbah beliau merokok dulu. Dihabiskan satu batang rokok kemudian beliau ceramah.

Kita bayangkan Abu Bakar as Siddiq, para sahabat mereka duduk bersama Nabi SAW sambil merokok diemperan masjid Nabawi. Coba kita bayangkan itu, rasanya sangat sulit sekali membayangkan.

Berbeda dengan jenis manusia kedua, Abu Jahal, Abu Lahab, Ubay bin Khalaf, orang-orang jahat musyrikin mereka berkumpul bersama orang-orang musyrikin lainnya kemudian sambil merokok klepas-klepus layaknya lokomotif sambil mengumpat kanan kiri. Coba kita bayangkan, maka kita sangat mudah membayangkannya.

Atau, Ubay Abdullah bin Salul bersama para orang-orang munafik, orang-orang yahudi, mereka merokok di kebun kurma sambil merencanakan makar untuk mengacaukan Madinah, asap rokoknya menyelimuti mereka. Kita bisa sangat mudah membayangkannya. Coba kita bertanya, kenapa yang satu sangat sulit kita membayangkan? Sementara yang satunya kita dengan sangat mudah membayangkannya? Jawabannya adalah masalah 'Karakter'.
http://www.UangProfit.com/?id=putrii
Karakter rokok yang sedemikian rupa tidak akan pernah sinkron dengan karakter orang-orang sholeh. Sebaliknya karakter rokok ini akan sangat serasi ketika anda sematkan di bibir orang-orang kafir atau orang munafik.

Rasulullah SAW bersabda: "Orang yang beriman itu seperti lebah, dia tidak makan kecuali yang baik, dan tidak mengeluarkan sesuatu kecuali yang baik" (HR. Ibnu Hibban)

Maka karakter rokok sangat tidak cocok jika kemudian ada di tangan-tangan orang sholeh semacam Nabi SAW dan para sahabatnya. Tapi akan sangat serasi ketika benda ini dipegang oleh orang-orang kafir dan orang-orang munafik.

Dikutip dari ceramah Ustadz Ammi Nur Baits - Andai Rokok Ada Di Zaman Nabi. Berikut ini videonya... klik disini Anda beralasan rokok tidak ada di zaman Nabi SAW, mengapa harus dilarang?

Mari kita merenung sejenak, coba kita bayangkan andai rokok itu ada di zaman Nabi SAW, ada di zaman para sahabat. Anda tarik kemasa silam benda ini yaitu rokok.

Siapakah yang kira-kira layak menghisapnya?
http://www.UangProfit.com/?id=subhanallah
Di zaman beliau SAW ada banyak jenis manusia. Disana ada Nabi SAW manusia paling baik, ada Abu Bakar as Siddiq, Umar, Ustman, Ali dan para sahabat lainnya r.a.

Sebaliknya disana ada Abu Jahal, ada Abu Lahab, ada orang jahat gembong-gembong musyrikin. Disana ada Ubay Abdullah bin Salul, dan orang-orang munafik, orang-orang yahudi yang tinggal bersama-sama Nabi di Madinah.

Coba anda bayangkan Nabi SAW merokok, sebelum berkhutbah beliau merokok dulu. Dihabiskan satu batang rokok kemudian beliau ceramah.

Kita bayangkan Abu Bakar as Siddiq, para sahabat mereka duduk bersama Nabi SAW sambil merokok diemperan masjid Nabawi. Coba kita bayangkan itu, rasanya sangat sulit sekali membayangkan.

Berbeda dengan jenis manusia kedua, Abu Jahal, Abu Lahab, Ubay bin Khalaf, orang-orang jahat musyrikin mereka berkumpul bersama orang-orang musyrikin lainnya kemudian sambil merokok klepas-klepus layaknya lokomotif sambil mengumpat kanan kiri. Coba kita bayangkan, maka kita sangat mudah membayangkannya.

Atau, Ubay Abdullah bin Salul bersama para orang-orang munafik, orang-orang yahudi, mereka merokok di kebun kurma sambil merencanakan makar untuk mengacaukan Madinah, asap rokoknya menyelimuti mereka. Kita bisa sangat mudah membayangkannya. Coba kita bertanya, kenapa yang satu sangat sulit kita membayangkan? Sementara yang satunya kita dengan sangat mudah membayangkannya? Jawabannya adalah masalah 'Karakter'.

Karakter rokok yang sedemikian rupa tidak akan pernah sinkron dengan karakter orang-orang sholeh. Sebaliknya karakter rokok ini akan sangat serasi ketika anda sematkan di bibir orang-orang kafir atau orang munafik.

Rasulullah SAW bersabda: "Orang yang beriman itu seperti lebah, dia tidak makan kecuali yang baik, dan tidak mengeluarkan sesuatu kecuali yang baik" (HR. Ibnu Hibban)

Dikutip dari ceramah Ustadz Ammi Nur Baits - Andai Rokok Ada Di Zaman Nabi. Berikut ini videonya... Anda beralasan rokok tidak ada di zaman Nabi SAW, mengapa harus dilarang?

Mari kita merenung sejenak, coba kita bayangkan andai rokok itu ada di zaman Nabi SAW, ada di zaman para sahabat. Anda tarik kemasa silam benda ini yaitu rokok.

Siapakah yang kira-kira layak menghisapnya?

Maka karakter rokok sangat tidak cocok jika kemudian ada di tangan-tangan orang sholeh semacam Nabi SAW dan para sahabatnya. Tapi akan sangat serasi ketika benda ini dipegang oleh orang-orang kafir dan orang-orang munafik.
http://profit-visitor.com/e10474
http://profit-visitor.com/e10474
Di zaman beliau SAW ada banyak jenis manusia. Disana ada Nabi SAW manusia paling baik, ada Abu Bakar as Siddiq, Umar, Ustman, Ali dan para sahabat lainnya r.a.

Sebaliknya disana ada Abu Jahal, ada Abu Lahab, ada orang jahat gembong-gembong musyrikin. Disana ada Ubay Abdullah bin Salul, dan orang-orang munafik, orang-orang yahudi yang tinggal bersama-sama Nabi di Madinah.

Coba anda bayangkan Nabi SAW merokok, sebelum berkhutbah beliau merokok dulu. Dihabiskan satu batang rokok kemudian beliau ceramah.

Kita bayangkan Abu Bakar as Siddiq, para sahabat mereka duduk bersama Nabi SAW sambil merokok diemperan masjid Nabawi. Coba kita bayangkan itu, rasanya sangat sulit sekali membayangkan.

Berbeda dengan jenis manusia kedua, Abu Jahal, Abu Lahab, Ubay bin Khalaf, orang-orang jahat musyrikin mereka berkumpul bersama orang-orang musyrikin lainnya kemudian sambil merokok klepas-klepus layaknya lokomotif sambil mengumpat kanan kiri. Coba kita bayangkan, maka kita sangat mudah membayangkannya.

Atau, Ubay Abdullah bin Salul bersama para orang-orang munafik, orang-orang yahudi, mereka merokok di kebun kurma sambil merencanakan makar untuk mengacaukan Madinah, asap rokoknya menyelimuti mereka. Kita bisa sangat mudah membayangkannya. Coba kita bertanya, kenapa yang satu sangat sulit kita membayangkan? Sementara yang satunya kita dengan sangat mudah membayangkannya? Jawabannya adalah masalah 'Karakter'.

Karakter rokok yang sedemikian rupa tidak akan pernah sinkron dengan karakter orang-orang sholeh. Sebaliknya karakter rokok ini akan sangat serasi ketika anda sematkan di bibir orang-orang kafir atau orang munafik.

Rasulullah SAW bersabda: "Orang yang beriman itu seperti lebah, dia tidak makan kecuali yang baik, dan tidak mengeluarkan sesuatu kecuali yang baik" (HR. Ibnu Hibban)

Maka karakter rokok sangat tidak cocok jika kemudian ada di tangan-tangan orang sholeh semacam Nabi SAW dan para sahabatnya. Tapi akan sangat serasi ketika benda ini dipegang oleh orang-orang kafir dan orang-orang munafik... Lihat Selengkapnya
==================================

HEBOOHHH...!!! Hanya Dengan Modal 50rb an dan Online Di Facebook, Mahasiswi Cantik Berhijab Ini berhasil Mendulang Uang Lewat Facebook. Dan Sudah Bisa Membeli Sepeda Motor Sendiri Hanya Dengan Online Di Facebook.
Lihat Bagaimana dia melakukannya, Klik Disini ==> http://goo.gl/fiyE9R  



Ingin Rajin Tahajjud? Coba 6 Kiat dari KH Muhammad Arifin Ilham Ini......

Sebelum menerima risalah dakwah, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam diwajibkan untuk mendirikan shalat Tahajjud. Ialah shalat yang paling utama setelah shalat fardhu dan kebiasaan orang-orang shalih terdahulu.
Seiring berjalannya masa, shalat Tahajjud diubah hukumnya menjadi sunnah. Sebab ada begitu banyak sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam yang merasa berat karena seharian beraktivitas di siang harinya dalam rangka beribadah kepada Allah Ta’ala.
Tahajjud merupakan salah satu amalan yang paling utama dalam Islam. Ia menduduki peringkat yang tinggi. Siapa rajin mendirikannya, Allah Ta’ala menjanjikan derajat yang tinggi di dunia dan akhirat.
www.income-syariah.com/?id=rithoo
Sayangnya, kita merasa berat untuk mendirikan ibadah unggulan ini. Banyak alasan yang kita sampaikan. Banyak kendala yang terkesan menyulitkan kita untuk melakukan ibadah agung ini.
Sebagai salah satu jalan ikhtiar, jika ingin menjadi pribadi yang rajin mendirikan shalat Tahajjud, tidak ada salahnya untuk melakukan kiat-kiat berikut. Ada enam kiat agar kita rajin Tahajjud. enam kiat ini merupakan nasihat agung dari Kiyai Haji Muhammad Arifin Ilham.
Pertama, luruskan niat. Perbaiki niat dengan senantiasa beramal dalam rangka taat kepada Allah Ta’ala. Sebaliknya, perbuatan dosalah yang membuat kita merasa berat dalam melakukan shalat Tahajjud. “Sungguh-sungguhlah dalam taat karena dosa merupakan sebab utama kemalasan.” tutur Kiyai Arifin.
Kedua, senantiasa belajar. Baca dan pahamilah ayat-ayat dan hadits-hadits serta atsar para ulama yang menyebutkan tentang kemuliaan dan keagungan shalat Tahajjud.
Ketiga, tidur lebih awal dengan sunnah. Jangan begadang untuk urusan yang sia-sia. Biasakan tidur lebih awal agar bangun lebih awal dalam keadaan segar bugar. Tidur lebih awal juga tidak cukup, tapi harus melakukan sunnah-sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam sebelum tidur. “Berwudhu dan berdoa sebagaimana diteladankan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam dan para sahabat.” ujar dai yang selalu berbusana serbaputih ini.

http://www.UangProfit.com/?id=subhanallahKeempat, jangan asal pilih sahabat. Kiyai Arifin memberikan nasihat, “Bersahabat dekatlah dengan hamba Allah Ta’ala yang sudah terbiasa menikmati ibadah Tahajjud.” Benar saja. Seseorang akan dimudahkan untuk menjadi sebagaimana sahabatnya. Dengan memperbanyak sahabat yang rajin Tahajjud, insya Allah kita akan ‘ketularan’.
Kelima, bergabung dengan komunitas. Di zaman modern ini, dakwah semakin mudah. Ada banyak komunitas yang didirikan oleh kaum Muslimin dengan tujuan saling tolong menolong dalam kebaikan dan taqwa. Bergabunglah dengan komunitas yang intens mendidik dan mengingatkan sesama Muslim agar rajin mendirikan Tahajjud.
Keenam, sering silaturahim ke ulama dan duduk di majlisnya. Inilah taman surga di dunia. Inilah sarana untuk memperbagus iman dan amal shalih. Inilah perkumpulan yang di dalamnya hanya ada keberkahan dan kebaikan.
“Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.” (Qs al-Muzzammil [73]: 6)
Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]
================
---
-
-
-
Tanpa MODAL, Untung BESAR.
hanya mendatangkan PENGUNJUNG SAJA ke web kami, anda akan kami bayar Rp.500,- Per Kunjungan..
caranya:
1. Daftar, klik disini: ====>>>...http://profit-visitor.com/m11086
2. Anda akan dikasih link seperti itu juga nantinya.
3. Terakhir silahkan promosikan link anda itu di FB anda, atau posting ke grup2 FB anda..
4.Anda kami bayar Rp.500,-/Klik yang datang dari link anda itu..!!!
RAGU MU = RUGI MU
 


Friday, 1 April 2016

Pastor Ini Cari-Cari Ayat di Bibel agar Kepala Dr Zakir Naik Dipenggal, Hasilnya…

Dr Zakir Naik berkali-kali menyampaikan di forum-forumnya yang disiarkan di Peace TV, jika ada yang bisa menemukan satu ayat saja dalam Bibel yang menyebutkan secara tegas dan tidak ambigu bahwa Yesus mengatakan “aku adalah Tuhan” atau “Sembahlah aku” maka Dr Zakir Naik siap masuk Kristen.
Bahkan belakangan Dr Zakir Naik juga mengatakan bahwa kepalanya siap dipenggal.

Kasihan! Ternyata Penonton Bayaran Di Acara TV Sering Alami Derita Ini....

Tidak pernah terbayangkan sebelumnya saat memutuskan untuk menjadi penonton bayaran atau yangs seting disebut penonton alay di banyak acara televisi. Banyak orang yang jauh merantau dari kampung halamannya hanya untuk bekerja, dan sulitnya mencari lapangan pekerjaan membuat orang menyanggupi untuk menjadi penonton bayaran di televisi.
Saat ditanya pekerjaannya? Mereka mengaku kalau menjadi pegawai di stasiun televisi karena merasa malu dengan identitasnya sebagai “penonton bayaran” dan menutupi hal itu dari keluarganya.
Seorang penonton bayaran mengungkapkan pengakuan bohongnya karena ia malu kepada orang tuanya kalau ia hanyalah penonton bayaran di televisi.
"Aku bilangnya kemarin itu, ‘Ya, Ma, aku diterima di suatu TV.’ Mereka tahunya aku masuk ke televisi-televisi itu bukan penonton,
Katanya ke Jakarta kerja, masa cuma jadi alay"

Banyak alasan mau menjadi penonton bayaran

Ada yang sekadar ingin menonton artis sekaligus mendapat bayaran. Yang lain mengandalkan bayaran dari agen atau koordinator penonton untuk menyambung hidup. Selain itu banyak orang orang yang hanya memiliki ijasah sekolah dasar yang kesulitan mencari pekerjaan akhirnya menjadi penonton bayaran seperti ini
"Ya gimana, daripada jadi pengangguran,"
Salah seorang penonton bayaran bernama Deden mengatakan kalau ia diajak oleh bibinya untuk menjadi penonton bayaran. Susahnya mencari kerja membuat ia menyanggupi bayaran Rp. 60.000 per hari. Ia bahkan memilih indekos bersama seorang temannya untuk menghemat pengeluaran. Pendapatan yang ia dapatkan hanya bisa untuk menyambung hidup dan ia tidak bisa berbuat apa apa lagi
"Pengin sih cari kerja lain, tapi mentok di ijazah,"

Berbohong supaya orang tua tidak kecewa

Annisa, seorang penonton bayaran yang mendapatkan bayaran lebih baik dari deden mengatakan kalau ia mendapatkan “pekerjaan” ini dari sebuah iklan koran. Ia langsung diterima setelah menghubungi pemasang iklan. Ia terpaksa berbohong karena sulitnya mencari kerja di Jakarta, dan orang tuanya selama ini tahunya ia bekerja di stasiun televisi bukan sebagai penonton bayaran.
"Gimana lagi, bohong lagi. Aku takutnya Mama kecewa,"
Ia sudah berusaha untuk mencari pekerjaan di tempat lain tapi belum membuahkan hasil. Mau tidak mau ia meneruskan pekerjaannya menjadi penonton bayaran, tapi ia tidak bisa menyembunyikan keinginannya untuk menjadi seorang pekerja dengan kemampuan yang dimilikinya. Entah kapan keinginan ini bisa terwujud
Jangan diterusin (jadi ‘penonton alay’). Aku pengin kerja yang nyaman dan enggak ngebohongin orangtua lagi, bisa kasih uang ke orangtua,”

============
kunjungi: www.sejuta-sehari.com


Jika Tidak Malu Baca Kisah Ini, Iman Anda Bermasalah!...

Imam Khatib al-Baghdadi sedang beribadah haji. Sesampainya di Makkah al-Mukarramah, beliau langsung diminta oleh jamaah kaum Muslimin untuk membacakan hadits. Tidak langsung menyanggupi, beliau meminta waktu untuk membaca al-Qur’an al-Karim, “Berikan aku waktu untuk membaca al-Qur’an.” pinta sang imam.
Beliau pun duduk di salah satu sudut Masjid al-Haram, memulai bacaan dari surat al-Fatihah, al-Baqarah, Ali ‘Imran, terus sampai surat an-Naas. Beliau mengkhatamkan 30 juz dalam sekali duduk. Beliau baru selesai sebelum matahari terbit, lalu membacakan hadits untuk kaum Muslimin.
Ulama lainnya bernama Ibnu ‘Aqil. Beliau lebih suka memakan kue daripada roti kering. Saat ditanya alasannya, beliau menjawab dengan tenang, “Karena perbedaan waktu antara keduanya (memakan kue dan roti kering) bisa digunakan untuk membaca 50 ayat al-Qur’an.”
http://www.UangProfit.com/?id=putrii
Kue lebih mudah dicerna oleh tubuh karena strukturnya yang lembut. Sedangkan roti kering relatif lebih lama karena keras sehingga menghabiskan banyak waktu. Dalam catatan Imam Ibnu ‘Aqil, memakan kue lebih beliau sukai sehingga memiliki lebih banyak waktu untuk membaca al-Qur’an.
Ketika berhaji di dua kota suci, Imam Masruq bin al-Ajda’ diriwayatkan sering tertidur ketika bersujud. Bukan lantaran mengantuk, tapi lamanya waktu yang beliau gunakan untuk melakukan gerakan ibadah yang merupakan posisi terdekat dengan Allah Ta’ala tersebut.
Sahabat mulia Urwah bin Zubair disebutkan selalu mengkhatamkan al-Qur’an dalam empat hari. Dalam sehari, beliau menikmati sekitar tujuh juz. Terus seperti itu di sepanjang usianya.
Sedangkan salah satu ahli hadits di Andalusia (Spanyol) disebutkan membaca Shahih al-Bukhari sebanyak 700 kali.
Seharusnya, kita lebih bersemangat dan bergegas untuk melakukan amalan tersebut. Sebab, kita hidup di zaman akhir dengan banyak ujian kemaksiatan di sepanjang waktu.
http://www.UangProfit.com/?id=subhanallah
 Sayangnya, kondisinya justru berlaku sebaliknya. Jangankan mengkhatamkan al-Qur’an sekali dalam empat hari sebagaimana Urwah bin Zubair Radhiyallahu ‘anhu, sebulan satu kali khatam pun amat jarang. Bahkan ada banyak kaum Muslimin yang tidak pernah khatam dalam satu tahun.
Belum lagi terkait sujud. Banyak di antara kita yang sujud hanya dalam hitungan detik. Bahkan shalat dua rakaat dengan empat kali sujud dikelarkan dalam bilangan lima menit atau kurang dari itu.
Rasanya malu. Tapi malu juga tidak cukup. Kita harus benar-benar berbenah.
Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]
------------------------------------------
-------
-----
-----
Tanpa MODAL, Untung BESAR.
hanya mendatangkan PENGUNJUNG SAJA ke web kami, anda akan kami bayar Rp.500,- Per Kunjungan..
caranya:
1. Daftar, klik disini: ====>>>...http://profit-visitor.com/m11086
2. Anda akan dikasih link seperti itu juga nantinya.
3. Terakhir silahkan promosikan link anda itu di FB anda, atau posting ke grup2 FB anda..
4.Anda kami bayar Rp.500,-/Klik yang datang dari link anda itu..!!!
RAGU MU = RUGI MU